Menanggapi Pemakaian Speaker di Masjid, musholla, langgar dll di Lingkungan Sekitar.

6:21 PM

akhir akhir ini Indonesia sedang dihebohkan oleh pemberitaan terbakarnya rumah ibadah umat muslim (masjid) di Tolikara, sebuah daerah di bumi Papua. terlepas dari oknum yang melakukannya , saya mencoba menanggapi salah satu spekulasi penyebab amukan warga tersebut. salah satunya adalah mengenai pemakaian speaker atau pengeras suara di Masjid. hal ini pun sangat berhubungan dengan pemberitaan akan adanya pembatasan pemakaiannya di Indonesia ini.



adalah sebuah kebutuhan yang mutlak dipergunakannya pengeras suara di masjid manapun, terlebih di Indonesia seiring dengan jumlah penganutnya yang juga banyak. Pemakaian pengeras suara di masjid yang utama adalah untuk menyerukan waktu sholat kepada muslim, dan agar segera mungkin meninggalkan aktivitasnya untuk melakukan ibadah sholat. apalagi hal itu semakin penting apabila rumah jamaah saling berjauhan. selain itu pemakaian pengeras suara juga menjadi hal yang perlu apabila jamaah yang hadir di dalam sholat tersebut membludak, sehingga suara dari imam atau khotib tidak terdengar sampai belakang. 
"berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas"(QS : Al A'raf ; 55 )
keberadaan pengeras suara adalah penting, melihat poin yang dianggap memang perlu untuk dipergunakannya benda tersebut. Tetapi sudah seharusnya pula tidak berlebihan dalam pemakaiannya. sehingga tidak terjadi penyalahgunaan yang ujungnya tidak menjadi suatu manfaat di beberapa sisi tertentu. terutama di perkotaan, perumahan dan dimanapun tempat keramaian. bukanlah hal yang aneh apabila di daerah sekitar masjid tinggal sebuah keluarga non muslim, yang otomatis perlu adanya ketenangan.

bukannya saya tidak suka mendengarkan suara pengajian atau tilawah quran dll, tapi ada hal yang lebih penting dari itu semua, yaitu kerukunan dalam bermasyarakat. hal hal yang bersifat bisa dilakukan tanpa pengeras suara seperti pengajian, tilawah quran atau kegiatan untuk kaum sendiri dan lain lain insyaALlah memiliki kualitas yang sama dalam derajat pahalanya. (walaupun saya juga nggak bisa menjanjikannya, wALlahu a'lam). dan alangkah baiknya apabila terpaksa dilakukan dengan pengeras suara, maka pihak yang bersangkutan memberitahukan ke lingkungan sekitar. setidaknya hal tersebut merupakan bentuk tata krama dan langkah untuk meminimalisir nyinyir dari orang sekitar. sebagai contoh:

" Assalamualaykum, InsyaAllah esok hari saya dan keluarga akan mengadakan pengajian di rumah. saya minta maaf apabila nantinya kami menggunakan pengeras suara dan itu akan mengganggu kenyamananmu. itu dikarenakan jumlah keluarga kami cukup banyak, dan sangat tidak mungkin kami memperdengarkan satu sama lainnya dengan berteriak. maka izinkanlah kami menggunakan pengeras suara"

hal diatas tentu saja berlaku untuk semuanya, baik itu muslim ataupun non muslim. karena nggak bisa dipungkiri sebagai muslim juga butuh adanya ketenangan. misalnya seorang muslim yang capek bekerja seharian dan butuh tidur di rumah dengan suasana yang nyaman.

Keberadaan umat non muslim perlu juga dipertimbangkan. supaya terjadi adanya kerukunan dalam bermasyarakat. dan sebisa mungkin menghilangkan paradigma kebencian oleh umat non muslim terhadap muslim sendiri. terkecuali sudah dipastikan bahwa masyarakat sekitar masjid adalah orang orang muslim.

akhir kata, disini saya tidak mempermasalahkan pemakaian pengeras suara di masjid, musholla, langgar dll selama itu perlu dan tidak berlebihan di dalamnya. karena Allah SWT pun tidak menyukai suatu hal yang berlebih lebihan.

sayapun berharap agar teman teman non muslim bisa maklum dengan suran adzan karena hal itu adalah seruan kami untuk menjalankan ibadah.

dan sesungguhnya saya sendiri tidaklah lebih dalam hal ilmu adab apalagi ilmu yang lebih luas sehingga tentu saja tidak luput dari yang namanya salah. apabila ada tulisan dari saya yang menyinggung atau salah dalam pembenaran, saya meminta maaf dari dalam hati yang terdalam.

terimakasih.

Okky Helja.
Semarang, 19 juli 2015.

You Might Also Like

0 komentar

komentar yang baik, maka kebaikan akan kembali padamu :)

recent posts

Popular Posts

Categories

aplikasi (5) arsip (10) bandung (1) buku (2) cerpen (2) cinta (20) detective conan (1) indonesia (17) inspirasi (35) islam (7) Jakarta (6) keluarga (2) kesehatan (1) kisah (29) kuliner (6) life (58) lingkungan (2) moment (10) movie (1) opini (25) organisasi (6) puisi (11) quotes (2) random (5) review (8) sarkasme (5) saya (34) Semarang (5) sepakbola (3) sharing (9) teknik kimia (4) ungaran (1) wisata (4)

Subscribe