ilmu tiru sebagai jalan hidup

12:46 PM

manusia diciptakan, lalu kemudian dimatikan. diantara kedua kejadian tersebut, terurailah sebuah proses yang panjang tetapi juga singkat. Ia panjang, karena baik buruknya sebuah hasil bukanlah melalui suatu hal yang instan. proses itu sekarang dirasa, hingga nantinya pasti terlupa. sebut saja Setyawan Sanusi, ia calon perwira TNI. demi menjadi seorang perwira yang gagah berani ia rela diberondong senapan kanan dan kiri. ia juga rela lompat tinggi, bukan dari menara loncat indah seperti di kolam renang, melainkan dari heli yang mengambang di udara. Senior kata, itu adalah latihan diri, tapi setyawan bilang, itu bunuh diri. proses yang kejam itu dirasa Setyawan amatlah sangat lama. kalaupun bisa menambahkan imbuhan "amat" beribu kali, setyawan akan mengimbuhkannya. tetapi sekarang setyawan berhasil menjadi perwira, usahanya selama 4 tahun membuahkan hasil, keringatnya yang terkuras menghadirkan sebuah gelar. setyawan merenung, ia menengok ke belakang menatap masa lalu. "rasanya seperti baru saja kemarin mulai pendidikan di akademi siksa ini, tiba tiba sudah lulus saja" fikirnya. setyawan sadar, hidup amatlah singkat.

proses kehidupan pasti dijalani dengan metode yang berbeda beda. jalur A, B, C sampai tak terhingga selalu tersedia. kreatif bukan?. jalur beda, tentu saja hasilnya juga demikian. kalaupun sama detailnyalah yang akan menjadi pembeda. sebut saja zulham dan zulfin saudara kembar kakak beradik pemain sepak bola. mereka sama rupa, sama tangan, sama kaki, sama rambut, sama umur, sama bapak, sama ibu, sama nenek, sama kakek, sama om, sama tante, sama tempat lahir, sama tanggal lahir, sama persusuan, bahkan sama kerja pula sebagai pemain sepak bola. tapi coba lihat detailnya pastilah ada suatu yang berbeda. mereka beda nama, beda kakak, beda adik (tentu saja, tidak mungkin dua duanya menjadi kakak atau dua duanya menjadi adik) mereka bermain sepak bola di beda club, beda istri, beda anak, beda cara makan, beda cara berdandan, lalu tersebutlah banyak pembeda yang lainnya.

banyaknya jalur yang tersedia untuk memulai suatu proses menjadikan tanya. apakah sebegitu inginnya manusia untuk berbeda satu sama lainnya? tentu saja tidak, kalaupun iya itu merupakan sebuah ego yang kalau dihitung secara parsial tidak ada hubungannya sama sekali. karena sesungguhnya manusia diciptakan dengan suatu zat kasatmata yang disebut akal. melaluinyalah hadirlah banyak ilmu turunan yang salah satu disebut dengan "ilmu pilih". "ilmu pilih"lah yang nantinya digunakan sebagai ilmu untuk memilih gerbang jalur proses kehidupan. saya adalah pemilih, kamu adalah pemilih, kalian adalah pemilih, mereka adalah pemilih. semua orang adalah pemilih, tetapi tidak semua orang mampu memilih dengan benar.

seiring dengan hadirnya "ilmu pilih" maka hadir pula "ilmu tiru". "ilmu tiru" ini mutlak ada bagi mahluk berakal. "ilmu tiru" mengerjakan pekerjaan lanjutan dari "ilmu pilih". kalau dalam EO sebut saja panitia pelaksana. "ilmu pilih" mengisyaratkan kemudian "ilmu tiru" melaksanakan. sering disebut sebagai ilmu yang hina "ilmu tiru" tetap bergeming, karena pada akhirnya ia sadar yang bisa dikatakan ilmu hina adalah saudaranya yang bernama "ilmu contek"yang mempunyai julukan "ilmu menyalin jawaban teman dikala ujian". "ilmu tiru" tidaklah hina, jika tidak ada dia bisulah kamu, lumpuhlah kamu, melaratlah kamu, matilah kamu. "ilmu tiru" adalah ilmu utama bagi manusia, dipelajari sejak lahir lewat cara autodidak. sama halnya dengan ilmu pilih, ilmu tirupun mempunyai prinsip yang sama yaitu tidak semua orang mampu meniru dengan benar.

saya meniru sejak 'mbrojol' ke bumi, saya yakin kalian juga begitu. meniru senyuman orang orang disekitar mudah saja bagi saya. bahkan tangisan saya pun merupakan sebuah refleksi tiruan dari gegapnya suara yang pertama kali terdengar di bumi. dilahirkan sebagai peniru, maka saya merintis karir hidup juga sebagai peniru. saya suka meniru, jika suatu hal yang saya tiru membosankan maka saya akan meniru hal yang lainnya. seperti tulisan sebelumnya, "ilmu pilih" menentukan gerbang maka tidak heran "ilmu pilih"lah yang menjadikan saya bosan. saya meniru karena saya berfikir, jika saya mampu melakukan sesuatunya sama persis dengan yang ia lakukan, maka saya pasti bisa sebahagia dia (atau siapapun yang menarik perhatian saya untuk sekedar ditiru). saya melupakan faktor x, atau faktor luar yang nantinya akan mengacau proses peniruan. hingga tidaklah menjadi mungkin 100 persen saya mampu menirunya dengan benar. 

seiring berjalannya waktu, hingga sekarang, sudah banyak hal yang saya lakukan sebagai bentuk meniru orang. sebut saja ketika saya masih SD, saya tertarik dengan anak yang mampu menaiki sebuah kendaraan berpengayuh beroda dua, orang orang menyebutnya sepeda. saya ingin mencoba kemudian saya tirukanlah ia. gerakan kaki yang berputar, postur badan yang menjorok kedepan, juga genggaman tangan pada selongsong setang. semua hal yang ada pada anak itu aku tiru dengan semaksimal mungkin, tidak ada yang terlewat. tetapi saya gagal. saya melupakan faktor x dari luar yang disebut keseimbangan. akhirnya saya baru bisa naik sepeda kelas 4 SD. lalu ketika SMA hebohlah sekolahan dengan permainan dari negri sakura. yugi-oh. saya lihat teman teman bahagia memainkannya hingga terbesit rasa ingin mencoba. saya kemudian membeli satu pack (satu deck) kartu yugi-oh. saya memainkannya sesuai dengan instruksi juga arahan teman saya yang sudah menjadi ahli di bidang per yugi-oh-an. tetapi karir saya sebagai pemain harus berakhir di tengah jalan. hal itu dikarenakan tidak lain dan tidak bukan adalah faktor dari luar, 'daya ingat'. dengan banyaknya jenis kartu, amatlah sulit bagi saya mengingat efek dan aturan main tiap tiap kartu. 

saya sadar, kemampuan meniru seorang tidaklah sanggup 100 persen dilakukan. faktor dari luar yang sudah saya contohkan menjadi sebuah tembok penghalang. tetapi saya menyadari pula, jika ada suatu tembok yang menghadang, selalu saja ada cara untuk melewatinya, melompatinya, atau minimal melakukan suatu yang bermanfaat di sekitarnya. andaikata saya melanjutkan karir saya sebagai pemain yugi-oh, bisa saja saya menjadi tenar sekarang (dikalangan antar pemain tentunya). tembok penghalang 'daya ingat' saya lewati dengan kebiasaan. semua menjadi bisa karena biasa. andaikata saya berusaha lebih keras dalam belajar bersepeda faktor keseimbangan pasti bisa saya lewati semenjak kelas 2 SD. semua kembali ke usaha. tidak ada yang tidak bisa kita tiru, selama fisik dan akal masih sama, kenapa tidak. 

terakhir ini saya mencoba meniru hobby seorang penulis blogger hingga terbitlah blog ini. saya juga meniru hobby seorang sahabat yang gemar menggambar lapangan sepakbola secara realis, saya menirunya dengan belajar menggambar wajah teman teman saya. semoga ALlah senantiasa ridho terhadap orang yang giat belajar seperti saya ini hingga nanti "ilmu tiru" yang saya terapkan bisa bermanfaat hehe. bismillah.

berikut beberapa contoh hasil sketsa yang saya lampirkan:













You Might Also Like

2 komentar

  1. Replies
    1. yups setuju dengan abang prajurit. saya senantiasa meniru perihal hal hal yang saya rasa menarik untuk ditiru. tentunya hal tersebut terdapat suatu kebaikan di dalamnya.

      Delete

komentar yang baik, maka kebaikan akan kembali padamu :)

recent posts

Popular Posts

Categories

aplikasi (5) arsip (10) bandung (1) buku (2) cerpen (2) cinta (19) detective conan (1) indonesia (17) inspirasi (35) islam (7) Jakarta (6) keluarga (2) kesehatan (1) kisah (28) kuliner (6) life (57) lingkungan (2) moment (10) movie (1) opini (25) organisasi (6) puisi (11) quotes (2) random (5) review (8) sarkasme (5) saya (34) Semarang (5) sepakbola (3) sharing (9) teknik kimia (4) ungaran (1) wisata (4)

Subscribe