hilang

tak juga kupahami, kenapa rintik hujan semalam begitu membekas di memori. bukan, bukan suaranya, hanya sepotong gambar kusut tarikan garis vertikal yang mencitrakan sunyi. tentu dulu, di ruang ini, keramaian pernah memeluk kami.

aku tak ingin kamu menjelma menjadi salah satu diantara garis itu. walaupun jika itu benar terjadi, tentu saja aku dapat menemukanmu dengan mudah. biar saja kamu menjadi yang sekarang ini, menjadi seorang gadis sederhana berhias lengkung sabit diantara kedua pipi.

yang aku inginkan kamu mau menemaniku untuk sekedar duduk di beranda depan. ceritakanlah segala hal layaknya penghujan di bulan desember, lalu aku akan menjadi gersang yang merindukan hujan.

kamu pikir aku yang telah menciptakan langit di wajahmu? tidak, tanpa aku, kamu sendiripun mampu. bagaimana mungkin aku bisa melakukannya jika anganku saja tercetak kelam. tak ada bintang, tak ada bulan.

lalu kamu sekarang tiba - tiba saja pergi, meninggalkan bekas, hingga langitku semakin mati.

Comments

Popular posts from this blog

tahap seleksi indonesia power 2016

5 Mie instan non premium terenak yang pernah aku makan

kembali ke jalan buku