evolusi goa kreo

5:10 PM


"Loh! kok hilang?". Sunan Kalijaga bertanya kepada dirinya sendiri. jelas saja, pohon kayu jati yang ingin ditebangnya guna dijadikan sebagai saka ( tiang penyangga ) bakal masjid Demak, hilang begitu saja. Sunan Kalijaga tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut, toh hal mistis dan gaib memang sedang menjadi hits di jamannya, kala itu. Hanya saja, kali ini Sunan harus berjalan lagi mencari pohon jati kualitas bagus lainnya. Sebelum pergi tak lupa Sunan menamai daerah itu sebagai Jatingaleh ( jati yang berpindah ).

Perjalanan sang Sunan berlanjut, dalam perjalanan tak lupa Sunan Kalijaga senantiasa berdoa agar diberi kemudahan oleh yang Maha Kuasa. Berbeda dengan saya, yang hanya berdoa kalau ada maunya (semoga berubah ya Allah.. hiks). Kali ini sampailah beliau di sebuah hutan. Di hutan tersebut tumbuh sebatang pohon jati yang sangat besar, tentu kualitasnya tidak lagi diragukan. andai saja waktu itu ada seorang ahli per-kayuan pasti udah bilang yes 3x. yes, yes, yes. skip. "saya tidak akan melakukan kesalahan yang sama" pikir sang Sunan. Maka diikatlah kayu tersebut dengan surban dengan harapan tidak lagi menghilang. Yakin dengan kemampuannya sang Sunan mulai menebang.

Beberapa kali pukulan oleh Sunan Kalijaga, dan jatuhlah sebatang pohon jati raksasa itu. Kali ini Sunan berhasil, dan tak lupa Ia ucap rasa syukur kepadaNya. "Alhamdulillah, semoga pohon ini dapat menjadi saka yang kuat nantinya.". Sunan dengan perasaan gembira mulai mempersiapkan perjalanan pulang ke Demak. untuk mempermudah, batang jati raksasa dihanyutkan di sebuah sungai sambil terus diawasi arahnya. sedangkan Sunan lebih memilih jalan kaki, lagi.

Namun, cobaan datang lagi menghampiri. Batang jati yang dihanyutkan tersebut tersangkut di sebuah air terjun dan tidak dapat digerakan. Sunan Kalijaga tidaklah berputus asa, karena Ia yakin bahwa Allah tidak akan memberi cobaan melebihi batas kemampuannya. Seperti halnya saya yang belum juga mendapat jodohnya, semoga hanya cobaan semata... Sunan Kalijaga akhirnya bersemedi dan berdzikir di sebuah gua, memohon pertolongan kepadaNya. selang beberapa waktu, Sunan dihampiri 4 ekor kera berwarna merah, kuning, putih, dan hitam. Keempatnya bermaksud memberi pertolongan kepada Sunan untuk mengambilkan batang jati yang tersangkut. Menerima kebaikan mereka, akhirnya Sunan Kalijaga berhasil mengambil kembali batang jati dengan membelahnya menjadi dua.

Setelah keberhasilan itu, Sunan Kalijaga bermaksud meneruskan kembali perjalanan ke timur (demak). Kali ini keempat kera dengan setia ingin mendampingi Beliau. Namun Sunan menolak (mungkin beliau sadar, bahwa kera lebih cocok diajak perjalanan ke barat) dan memberikan tugas kepada kepada kera - kera tersebut untuk menjaga goa tempat Sunan bersemedi. hingga sekarang tempat itu dinamakan goa kreo ( goa ngereho = goa berjaga ). dan akhirnya mereka hidup bahagia, selama - lamanya..


-ooo-

Beberapa abad setelah itu, saya dan ibu berkesempatan untuk menjelajahi area wisata goa kreo. Area ini berada di kelurahan Kandiri kecamatan Gunung Pati, Semarang. dapat ditempuh selama 20 menit dari bandara Ahmad yani ke arah manyaran - gunungpati, dengan menggunakan mobil atau motor. Saya sendiri lebih memilih motor karena jalannya yang naik turun dan kelak kelok bukit. Sepanjang perjalan saya bisa merasakan udara segar daerah pegunungan, dan kebetulan waktu itu musim durian sehingga semakin menambah nikmat udara pagi, tetapi membuat suram dompet beserta isinya..

 Sore itu goa kreo padat pengunjung, maklum libur awal tahun. setelah memarkir motor, saya menuju loket dan membayar biaya masuk. harganya cukup murah yaitu Rp 3.500,- per orang dan Rp 1000,- permotor. kalau untuk biaya parkir mobil mungkin hanya Rp 2.000,- saya lupa menanyakan. dari parkiran motor diharuskan untuk berjalan kaki. sepanjang perjalanan terdapat puluhan warung yang berjejer menyajikan makanan dan jajanan.
tips no 1 : baiknya pengunjung memarkir motor di tempat parkir resmi biar murah dan dekat, soalnya banyak juga warga membuka tempat parkir di halaman rumahnya yang kemungkinan lebih mahal
tips no 2 : bawa bekal makanan, biar ngirit. bawa jajanan, terutama kacang, siapa tahu kamu pengen berbagi dengan para kera.
setelah melewati beberapa warung, akan ada patung kera besar berwarna hitam. nah, ini artinya saya mulai masuk ke area wisata utama. patung ini mirip patung hachiko di jepang lhooo hehehe. bedanya si kera sedang pose boker shedapp.

hello monkey! lagi boker ya?
setelah melewati patung, saya diharuskan menuruni beberapa anak tangga, yang telah kehilangan mama papanya. sayang, pengelola kurang peka terhadap penderitaan pengunjungnya, jadi nggak dipasang eskalator deh. tangga ini lumayan panjang, tapi nggak kerasa kok, soalnya ada pemandangan yang luar biasa di depan mata, sebuah waduk yang memanjakan mata hehehe. tangga ini menuju ke sebuah jembatan yang menjadi ikon goa kreo di era modern ini, dulu sih belum ada tapi berubah semenjak negara api menyerang. eeh serius, dulu nggak ada. dan setelah dibangun jadi rame deh area wisata ini.



jembatan ikon ini menghubungkan antara dunia manusia dengan dunia kera yang berupa pulau kecil. (eh iya nggak sih, itu pulau). di pulau itu lagi dan lagi saya dipertemukan dengan tangga. kali ini lebih random dan naik turun. tapi nggak papa, demi bertemu dengan saudara semahluk, saya rela melakukan apapun. semangat!!

ndak mirip kok, gantengan saya serius.

ohya, daritadi saya ngomongin kera, tangga, jembatan. lalu mana goanyaa!!. goa kreo sendiri berada di tengah - tengah perbukitan (atau hutan ya ini). katanya sih dalemnya 25 - 30 meter. tapi saya tidak masuk soalnya bau pesing. mungkin bagi para kera tempat itu laksana toilet kali ya hehe.

penampakan goa kreo
semakin ke atas, semakin sering kamu berjumpa dengan kera. menurut para warga, kera - kera ini adalah keturunan dari keempat kera yang menolong Sunan Kalijaga, tapi nggak warna warni seperti di cerita lho ya. berjenis ekor panjang, kera - kera ini jinak. lucu, dan menggemaskan kok. (jadi pengen pelihara satu hehehe )

ape lu liat liat!


nih pantat!
goa kreo ini satu lokasi dengan waduk jati barang lho. waduk ini juga baru dibangun bebarengan dengan jembatan ikon goa kreo tadi. pengunjung bisa berwisata naik perahu mengelilingi waduk dengan menggunakan boat. seruuu.

goa kreo yang sekarang memang tidak seperti goa kreo yang dulu. sekarang lebih bagus dan indah, tetapi jangan lupa, kelestariannya haruslah tetap dijaga. supaya kelak, anak cucu kita pun bisa menikmatinya. evolusi boleh, berubah fungsi dan tujuan jangan yaa.

setelah puas dengan sajian pemandangan yang indah. dan atraksi kera - kera yang lucu. saya akhirnya memutuskan untuk pulang. tak lupa jangan pernah meninggalkan sampah - sampah di area wisata, biar dibilang beriman gituuu guys. hehehe

duh sampahnya :(
yey!

You Might Also Like

6 komentar

  1. Wkwkwk. Patung monyet ditanyain lagi boker? Hehehe

    ReplyDelete
  2. gua kreo memang sipp :)

    sajian pantat monyet :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. sudah pernah kesini mas?

      hehehe *he like to move it* :p

      Delete
  3. Awas jangan selfi disana ntar roboh lagi jembatan'a hahaha :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. duh untung nggak selfie, untungnya difotoin hehe

      Delete

komentar yang baik, maka kebaikan akan kembali padamu :)

recent posts

Popular Posts

Categories

aplikasi (5) arsip (10) bandung (1) buku (2) cerpen (2) cinta (19) detective conan (1) indonesia (17) inspirasi (35) islam (7) Jakarta (6) keluarga (2) kesehatan (1) kisah (28) kuliner (6) life (57) lingkungan (2) moment (10) movie (1) opini (25) organisasi (6) puisi (11) quotes (2) random (5) review (8) sarkasme (5) saya (34) Semarang (5) sepakbola (3) sharing (9) teknik kimia (4) ungaran (1) wisata (4)

Subscribe