pemimpin 360 derajat

3:46 PM

Lima menit setelah pembacaan hasil perhitungan resmi, Saya segera melihat diri saya dalam keadaan yang tidak sama lagi. Mungkin tumpuan saya masih berpijak di tempat yang sama, tapi beban yang saya pikul seolah bertambah, dari yang hampa menjadi isi sejuta kali. Saya melihat luthfi, tatapan matanya masih sama, kecil dan tajam, seolah mengatakan bahwa ia masih ingin terus berpacu menatap jauh kedepan. Sedetik kemudian saya memalingkan pandangan ke arah Herman, tidak ada ekspresi yang berubah, masih tenang dan waspada seolah berjaga jika ada ancaman datang sewaktu - waktu, dalam waktu yang singkat itu saya masih bisa dibuat kagum oleh ekspresinya.

Mungkin dari puluhan orang yang riuh di koridor itu hanya Saya yang merasa telah mengalami perubahan yang maha dahsyat, tapi kenapa?

Seperti yang mungkin pernah kalian rasakan juga, perubahan itu adalah suatu hal yang menakutkan terlebih jika menyangkut terhadap diri kita sendiri. Terkadang perubahan laksana aliran sungai yang tenang, alirannya jelas terlihat tapi butuh waktu untuk mencapai jarak. Terkadang pula, perubahan itu tidak mengenal waktu, kurang lebih hanya seketika saja. Dan perubahan seperti itulah yang paling mengerikan, karena setidaknya itu yang saya rasakan.

Saya kembali ke dunia nyata, sesaat lalu saya melewatkan keriuhan yang menjalar dari satu orang ke orang lain. Diawali dengan jabatan tangan teman satu persatu, maka dimulailah fantasi perjalanan kehidupan saya yang baru. Mungkin banyak orang di luar sana yang tidak akan menyangka, bahkan membayangkan sedikitpun tidak pernah. Ada juga kemungkinan yang berlawanan dengan itu, bahkan lebih, yang dengan tiap doanya berharap sesuatunya terjadi sedemikian rupa. Tetapi kenyataan menjawab segala sesuatu pemikiran abstrak orang - orang dengan hal yang pasti, ya, dimulai dari senja itu saya resmi menjadi pemimpin kecil di sebuah kampus.

Bagi saya, dan bagi ribuan bahkan jutaan orang lainnya. Pengalaman menjadi pemimpin untuk yang pertama kali merupakan hal yang luar biasa. Di satu titik saya merasa bahagia, entah kenapa, bisa jadi dikarenakan rasa syukur oleh sebab banyak teman yang mendukung saya. Tetapi di titik lainnya, saya seolah merasa takut diakibatkan perubahan kedudukan yang secara tiba - tiba, dari yang bukan siapa - siapa menjadi yang di-siapa-kan.

Saya rasa memang benar apa yang telah dituliskan seorang Zen RS di dalam bukunya, Bahwa terlalu banyak waktu dihabiskan untuk menginginkan sesuatu dan kemudian tak menginginkannya kembali. Sebaris kata yang ditulis oleh Zen tersebut seolah menampar saya dengan segala pengandaian tentang figur seorang pemimpin. Dulu, sebelum semuanya terjadi, saya selalu mengagumi sosok seorang pemimpin entah dimanapun ia mengemban posisinya, dan saya selalu ingin menjadi salah satu bagian dari mereka. Tetapi lambat laun keinginan itu menjadi sirna, seiring dengan beban yang mulai diemban, dan semuanya telah terlambat.

Tetapi mungkin penyesalan saya yang lalu itu memang diciptakan untuk menjadi sebuah penyesalan hampa. Karena setelah membaca buku The 360 Degree Leader karangan seorang John C Maxwell, mau atau tidak mau kepribadian memang bisa menghantarkan kita menjadi seorang pemimpin (terlepas dari jabatan maupun ungkapan tentang konsep memimpin diri sendiri). Di dalam buku The 360 Degree Leader  tersebut, seorang John berujar bahwa "kepemimpinan adalah pilihan yang anda buat, bukan tempat yang anda duduki". Semakin tinggi jabatan seseorang, tidak serta merta mansbihkan ia menjadi pemimpin yang sebenarnya, karena mungkin saja jauh di pelupuk mata ada seorang kecil yang lebih mahir dalam memerankan seorang pemimpin.

Dalam konsep Pemimpin 360 Derajat, seseorang yang mahir mampu diposisikan sebagai pusat dalam kepemimpinan. Layaknya tingkatan kasta dalam kepercayaan masyarakat hindu, atau dalam penerapan kepangkatan militer, straight line kepemimpinan juga mengenal hal yang sama. Hanya saja, John menafsirkannya menjadi hal yang lebih fleksibel, bahkan lebih tepat sedikit merusak tatanannya tetapi tanpa bekas yang begitu nyata. Mudahnya, kamu bisa menjadi  seorang pemimpin walaupun dalam posisi atau kasta yang paling rendah.

Menjadi seorang Pemimpin 360 Derajat memang tidak semudah itu, dibutuhkan ketrampilan yang baik dalam hal prinsip. Karena pada dasarnya 360 Derajat memiliki arti bahwa kamu bisa memimpin orang - orang di atas, di samping, dan di bawah anda secara bersama - sama. Setidaknya ada beberapa prinsip yang dapat saya rangkum dalam buku The 360 Degree Leader, berikut diantaranya.

Prinsip memimpin ke atas
Dalam teori yang sebenarnya, memimpin ke atas menjadi suatu hal yang tabu untuk dilakukan. Bayangkan saja, ada seorang cecunguk yang kurang ajar beraninya memimpin bosnya. Tetapi John menuliskan bahwa memimpin ke atas adalah sebuah seni memimpin secara gerilya, atau boleh dikatakan hati - hati. Seorang pemimpin ke atas, harus bisa menumbuhkembangkan kepercayaan yang besar terhadap dirinya oleh pemimpin yang sebenarnya. Selalu mau melakukan hal yang tidak mau dilakukan orang lain mungkin merupakan salah satu langkah yang tepat. Kemudian dengan tingkatan tersebut, ia juga harus tau kapan saatnya mendorong dengan segala pemikirannya, dan kapan pula harus menahan diri (atau bersikap untuk tidak terlalu dominan).

Prinsip memimpin ke samping
Jika diartikan dalam logika saya, memimpin ke arah samping adalah pola kepemimpinan yang memiliki cakupan paling luas. Mungkin kesetaraan yang menjadikannya seperti itu. Kuncinya adalah integritas tinggi terhadap sesama, baik itu teman ataupun saingan. Karena pada dasarnya saling melengkapi kemudian menjadi teman yang baik adalah prinsip dasar yang harus dilakukan, demi teman, untuk teman.

Prinsip memimpin ke bawah
Berbicara mengenai bagaimana prinsip memimpin ke bawah, maka kita telah membicarakan bagaimana kodrat berjalan. Karena memang benar dalam teropong mata semua orang berkata sedemikian rupa, memimpin memang harusnya ke bawah, dan disitulah kesempurnaan pola putaran kasta telah terjadi. Berbicara mengenai kesempurnaan pula, tulisan mengenai prinsip dalam memimpin ke bawah sudah sepantasnya beredar di mana - mana, tetapi itu malah menjadi saksi bagaimana tidak sempurnanya antar tulisan itu yang kemudian berfungsi saling melengkapi, termasuk buku karya John ini.

Dalam tulisannya John berkata, bahwa penting menganggap tiap anggotamu sebagai orang yang paling unggul (saya menafsirkannya sebagai keunggulan yang berbeda - beda). Kemudian setelahnya jadikanlah anggapan itu menjadi hal yang nyata, seperti menempatkan mereka kedalam posisi yang benar dan tepat. Dengan cara - cara yang sedemikian rupa upayakan pula kamu telah menanam visi dan budaya perilaku yang kamu inginkan.

Well, mungkin menjadi seorang pemimpin 360 derajat adalah sebuah hal yang fana. Tetapi jika memang benar hal itu bisa dan diupayakan menjadi nyata, maka saya yakin tata kelola apapun itu akan menjadi sangat berkualitas. Dan lagipula, setelah itu, menjadi seorang pemimpin tidak serta merta menjadikanmu seorang yang sendiri lagi, karena sebuah tim pemimpin lebih efektif ketimbang hanya satu pemimpin.*

You Might Also Like

6 komentar

  1. Prinsip memimpin ke atas, ke samping, dan ke bawah, ini menarik bagi saya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kang akhmad buat testimoninya :)

      Delete
  2. keren nih artikelnya, saya juga selalu deg-degan setiap kali memimpin suatu organisasi atau kelompok, dan itu justru malah melatih kita untuk semakin terampil dalam memimpin. bener tuh kata mz, memimpin itu adalah pilihan yang anda buat, bukan soal posisi. hehe salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih mas buat testimoninya hehe. Semoga selalu diberikan kebaikan lebih dalam memimpin ya mas. Salam kenal juga

      Delete
  3. Well, sedikit sharing.
    Banyak pemimpin, baik yang aku temui maupun yang aku dengar dari teman2, bahwa masih banyak pemimpin yang bossy sekali.
    Semoga sih pemimpin-pemimpin yang bisa seperti pada salah satu dari tiga macam pemimpin, atau bisa tiga-tiganya diterapkan.

    Ohya, setuju! Setiap anggota memiliki keunggulan masing-masing.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan banyak juga kok mbak yang bisa memimpin dengan baik dan benar,semoga pemimpin pemimpin tersebut bisa lebih berkembang biak lagi untuk bertambah lebih banyak kedepannya, aamiin

      Delete

komentar yang baik, maka kebaikan akan kembali padamu :)

recent posts

Popular Posts

Categories

aplikasi (5) arsip (10) bandung (1) buku (2) cerpen (2) cinta (19) detective conan (1) indonesia (17) inspirasi (35) islam (7) Jakarta (6) keluarga (2) kesehatan (1) kisah (28) kuliner (6) life (57) lingkungan (2) moment (10) movie (1) opini (25) organisasi (6) puisi (11) quotes (2) random (5) review (8) sarkasme (5) saya (34) Semarang (5) sepakbola (3) sharing (9) teknik kimia (4) ungaran (1) wisata (4)

Subscribe