Menjadi Seorang Pekerja Shift yang Baik dan Benar

10:09 AM


Marno adalah seorang buruh di salah satu pabrik tekstil terbesar di Indonesia. Dari puluhan job desk yang ditawarkan disana, tugas Marno hanya satu, ndondomi dari awal shift sampai pergantian shift, nggak kurang dan nggak lebih. Berbeda dengan Marno, Rokhim terbilang bekerja dengan lebih variatif. Pasalnya, walaupun ia hanyalah seorang satpam di suatu bank bilangan Jakarta pusat, tetapi job desknya lebih padat. Jika ia dapat jatah masuk pagi, maka tak terelakan tugas jaga, njabut karcis, bahkan markiri mobil menjadi makanannya saat itu. Dan jika ia dapat jatah masuk malam, tugas ronda yang bisa diselingi main sekak menjadi rundown utamanya.

Marno dan Rokhim adalah sahabat semenjak berada di kandungan, masing - masing ibunyalah yang menjadikannya seperti itu. ketika kecil, Marno bercita - cita menjadi seorang pilot, ya hanya pilotlah cita - cita Marno yang paling masuk akal selain menjadi Spiderman, Gundam, dan juga Jiban. Sedangkan Rokhim, walaupun masih kecil, tetapi ia teguh dengan pendiriannya yaitu menjadi seorang pemain sepakbola yang mendunia. Tapi naas, garis nasib keduanya berkata lain.

Dari dua macam pekerjaan Marno dan Rokhim di atas, ada satu kesamaan. Baik Marno maupun Rokhim, keduanya telah ditakdirkan untuk menjadi seorang pekerja shift. Marno dengan empat regu dan tiga shiftnya, sedangkan Rokhim dengan tiga regu dan dua shiftnya. Marno dengan 8 jam kerjanya, sedangkan Rokhim dengan 12 jam kerjanya. Marno dengan formasi 2p-2s-2m-2l sedangkan Rokhim dengan formasi 3p-3m-2l. Walaupun mereka sama - sama jenuh, tetapi setidaknya hasil rela jenuh mereka bisa membahagiakan keluarga. Hanya saja, ada satu hal yang merepotkan mereka berdua, masuk angin.

Marno paling malas kalau sedang shift malam, karena ia harus rela menerjang dinginnya angin malam hanya untuk ndondomi saja. Sedangkan Rokhim sebenarnya nggak benci - benci amat dengan shift malam, karena hanya saat shift malamlah ia bisa bekerja sambil bermain. Tetapi tidak bisa dipungkiri, kualitas angin malam memang tidak begitu bagus untuk tubuh rokhim. Suatu hari ketika memasuki shift malam kedua, Marno jatuh sakit, gejalanya tidak salah lagi adalah masuk angin. Sebagai sahabat yang baik dan pengertian, Rokhim memboyong istri beserta kedua anaknya untuk menjenguk Marno di rumahnya.

"Dirimu masuk angin lagi No?"

"Penyakit apa lagi yang sudi menjarah kesehatanku kecuali masuk angin, kamu sebagai sahabat seharusnya tahu akan hal itu" Jawab Marno sedikit ketus mendengar pertanyaan satu jawaban dari Rokhim

"hehehe.. ya ndak usah jengkel gitu No, kamu sebagai sahabat seharusnya juga tahu kalau aku ini tengah intermezzo membuka sebuah obrolan saja"

 "iya deh iya.. eh betewe, istri dan anak - anakmu kemana? kayaknya tadi aku mendengar suara - suara mereka."

Rokhim menarik kursi di ujung samping lemari ke arah kasur pesakitan Marno sambil menjawab "tuh sedang di luar ngobrol sama istri dan anak - anakmu.. udah biarkan saja mereka dengan dunianya, sedangkan kita bisa ngobrol berdua"

"oh gitu, yaudah"

"eh, ngomong - ngomong kamu ndak merasa bosan gitu dengan keadaan yang gini - gini aja?"

"maksud kamu Khim?" tanya Marno sembari mengernyitkan dahi.

"ya gini, kerja, masuk angin, kerja, masuk angin gitu terus aja nggak mandek mandek."

Marno diam

"Sebagai seorang satpam teladan, tubuhku harus sehat. Lha gimana bisa ngejar maling kalau tiap seminggu 3 hari tubuh ini remuk akibat digeber buat merasakan dinginnya angin malam" Rokhim melanjutkan cerocohnya ke Marno.

Marno masih saja diam, terlihat dia tengah menerawang langit - langit memikirkan sesuatu.

"No, kita harus berubah, revolusi No.. revolusi, seperti kata presiden kita!"

Kali ini, dengan tubuh yang ringkih Marno mulai bergerak. Ia bangkit, berjalan, mengambil gelas di meja ujung ruangan, menuangkan air putih, meminumnya, kemudian kembali kagi ke kasur. Sembari berjalan menuju kasur hingga duduk, Marno berucap.

"Khim, sebagai pekerja shift kita harus bersyukur karena sesungguhnya masih banyak orang - orang yang tidak seberuntung kita. Aku lulusan SD, sedangkan kamu nyaris tidak lulus SD, apalagi yang kita harapkan selain ini? kita harus profesional Khim, baik lahir maupun bathin."

kali ini Rokhim yang terdiam, entah mungkin ia tersinggung dibilang hanya nyaris lulus SD, entah ia tengah masuk dan berfikir kedalam pembicaraan Marno.

"Aku memang bosan dengan pekerjaan ini, lalu kenapa? bisa saja rasa bosanku ini tengah dicatat oleh Tuhan sebagai bentuk perjuanganku dalam sebuah pekerjaan. itu juga berlaku terhadapmu Khim. Aku memang sering sakit - sakitan, tapi asal kamu tahu Khim, sakitku ini buah dari profesiku, bukan dari angguranku di rumah saja, kamupun harus mengerti itu. Yang bisa aku lakukan hanya ndondomi khim, hanya itu. tapi setidaknya aku bisa menjadi seorang pendondom terbaik di pabrikku"

...

Malam itu, sekembalinya dari rumah Marno sahabat terkasihnya, Rokhim pulang dalam keadaan yang penuh motivasi dan penuh kebahagiaan. Ia amat sangat bahagia karena tidak disangka ternyata Marno adalah pahlawan yang melebihi Spiderman, Gundam, dan juga Jiban. Marno adalah pahlawan sejati yang selalu ikhlas dalam bekerja, apapun kondisinya. Kini tekad Rokhim berapi - api karena perkataan Marno. Jika ia sekarang tidak bisa menjadi apapun yang diinginkannya, setidaknya ia bisa menjadi seorang pekerja shift yang baik dan benar, yaitu menjadi seorang satpam terbaik di dunia.


You Might Also Like

1 komentar

komentar yang baik, maka kebaikan akan kembali padamu :)

recent posts

Popular Posts

Categories

aplikasi (5) arsip (10) bandung (1) buku (2) cerpen (2) cinta (19) detective conan (1) indonesia (17) inspirasi (35) islam (7) Jakarta (6) keluarga (2) kesehatan (1) kisah (28) kuliner (6) life (57) lingkungan (2) moment (10) movie (1) opini (25) organisasi (6) puisi (11) quotes (2) random (5) review (8) sarkasme (5) saya (34) Semarang (5) sepakbola (3) sharing (9) teknik kimia (4) ungaran (1) wisata (4)

Subscribe