untuk tidak terbawa perasaan

3:55 PM

Pagi itu, karena merasakan sedikit sentuhan di sisi kananku, aku terbangun. Sepanjang penerbangan Makassar - Surabaya mataku memang sudah sangat terasa berat. Tetapi pikiranku yang kalut selalu menjagaku terbangun walaupun melayang entah kemana. Menatap awan - awan yang terbingkai jendela. Mengalihkan pandangan ke lubang pendingin yang terlihat biasa saja. Memainkan kenop meja, membuka, lalu menutupnya lagi dengan sengaja. Menarik majalah ke pangkuan, membuka, tetapi huruf - hurufnya sama sekali tak terbaca. Tubuhku akhirnya berontak, lalu tertidur sebentar di titik transit bandara Juanda Surabaya, sampai aku terbangun oleh gelombang penumpang berikutnya.

Seorang eksekutif muda, berpenampilan perlente. Ia memakai setelan jas rapi, sepatu hitam yang mengkilat, dan jam tangan merk tissot melingkar di pergelangan kirinya. Duduk di sebelah kananku. Ia memakai kacamata dengan lensa yang cukup tebal, dari sana aku menyimpulkan bahwa usaha kerasnya telah membawanya kepada titik yang seperti ini. Dari wangi yang tercium, aroma segar musk bercampur dengan wangi rempah - rempah terkesan sangat mewah. Rambutnya membelah ke samping, tersisir rapi bergelombang menegaskan bahwa ia orang yang tidak terlalu kaku. Tetapi dibandingkan dengan detail penampilan necisnya itu, ekspresi wajahnyalah yang paling mencolok dan menarik perhatianku. Ekspresi tegang dan penuh kesedihan, terkadang alisnya menggambarkan juga rasa marah yang tidak dominan. Melihatnya, aku merasa ia adalah cermin yang paling jujur atas kondisi diriku saat ini.

Sesekali aku berpura - pura membaca majalah yang sebenarnya tidak kuketahui isinya, sesekali juga aku mencuri lihat ke arah kanan, menerka apa gerangan yang sedang difikirkan olehnya. Apakah masalah sepele sepertiku, atau masalah yang lebih rumit lagi. Aku tidak mau menilai seseorang dari penampilannya saja, bahwa ia harusnya memiliki masalah yang sama berkelasnya. Terkadang, seseorang memang memiliki titik pandang yang cukup unik untuk menarik urat sarafnya sendiri. Walaupun, masalah itu pada akhirnya juga tidak akan berpengaruh kepada kualitas hidupnya secara langsung. Persis seperti kondisiku saat ini.

Kali ini, sebelum pesawat lepas landas untuk penerbangan berikutnya, suara ponsel sang eksekutif muda berbunyi. Ia membuka dengan gerakan yang cukup cepat, mengetikan kode, kemudian membuka aplikasi pesan. Tentu, kesempatan ini tidak aku sia - siakan untuk mengetahui ada apa gerangan yang terjadi terhadap sang eksekutif muda. Rasa penasaranku akan terbayarkan, dan pada akhirnya nanti, aku akan turun dari pesawat dengan rasa tenang, setidaknya beban di fikiranku tidak berubah menjadi dua. Operasi pengintipan pun dimulai.

Aku rapatkan badanku ke senderan kursi, serapat mungkin. kepalaku lurus ke depan, tetapi bola mataku tidak. Jarak antara kursiku dengan kursinya memang tidak menjadikan sudut pandang bola mataku menjadi sulit. Akupun tidak perlu repot - repot menengok ke kanan hanya untuk menjadikan rasa curiga, cukup lirikan mata saja. Dan hanya dengan gerakan sederhana itu, aku melihat semuanya. Semua teks yang tertulis di aplikasi pesan terbaca, dari seseorang, tebakanku adalah istrinya.

Pesan itu berisi ucapan pengantar pergi. Sama sekali tidak berhubungan dengan masalah sang eksekutif muda, aku rasa. Tetapi sekali lagi, melalui pesan itu, aku menemukan momen yang cukup menarik. Ekspresi mendung sang eksekutif muda tiba - tiba menghilang, wajahnya berangsur cerah, dan pipinya sedikit memerah. Ia mengangkat sedikit kaca matanya, mengusap kedua pipi dengan jempol dan telunjuk tangan kanannya secara vertikal dari atas ke bawah, lalu merapikan kembali kacamata ke posisi yang nyaman. Dengan sukacita, ia membalas pesan dari sang terkasih. "I love you, i'm okay. Aku tidak apa - apa sekarang". Aku tidak tahu, tapi aku rasa wajahku juga ikut memerah membaca pesan singkat itu.

Setelah pesan terkirim, ia menutup aplikasi pesan, mematikan ponselnya, lalu mengamankannya ke dalam saku celana sebelah kanan. Ia diam, memandang jauh ke arah kursi depan. Lagi - lagi ekspresi kalut itu muncul kembali, tegang dan penuh kesedihan. Karena dirasa cukup, aku berhenti mengamatinya. Pandanganku kualihkan ke depan, berharap apa yang dirasakan sang eksekutif muda juga dapat aku rasakan. Aku memejamkan mata, berfikir sejenak, membukanya kembali, mengambil ponsel, lalu menyalakannya.

Aku memetik pelajaran berharga dari sang eksekutif muda. Bahwa seharusnya aku tidak terlalu terbawa perasaan atas apa yang terjadi belakangan. Mengacuhkan pesan sebelum keberangkatan di Makassar, untuk memilih diam dan menelan pil kekalahan. Kekalahan Barcelona di liga champion tidak seharusnya aku bawa ke sisi kehidupanku yang lain, sisi keluarga, toh ibuku tidak mengerti sepakbola. Tidak mengerti juga ia mengenai rasa sedih melihat tim kesayangan dibantai tak berbalas di leg kedua. Setelah yakin ponsel telah menyala, aku buka aplikasi pesan, lalu kemudian mengetikkan sebuah balasan, "iya, udah berangkat dari tadi subuh. Iya, nanti ketemu di bandara ya bu. Aku kangen".

You Might Also Like

0 komentar

komentar yang baik, maka kebaikan akan kembali padamu :)

recent posts

Popular Posts

Categories

aplikasi (5) arsip (11) bandung (1) buku (5) cerpen (2) cinta (21) detective conan (1) indonesia (17) inspirasi (35) islam (7) Jakarta (7) keluarga (4) kesehatan (1) kisah (31) kuliner (7) life (61) lingkungan (2) Makassar (1) moment (12) movie (1) opini (28) organisasi (6) puisi (11) quotes (2) random (5) review (8) sarkasme (5) saya (37) Semarang (6) sepakbola (3) sharing (13) Sulawesi (1) teknik kimia (4) ungaran (1) wisata (4)

Subscribe